Ponorogo, 4 April 2026 — Bapak dan Ibu Guru MI Ma’arif Syuhada’ menghadiri kegiatan Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (K3MI) 06 Kabupaten Ponorogo. Kegiatan ini dilaksanakan di MI Ma’arif Gupolo, Babadan, Ponorogo sebagai ajang silaturahmi sekaligus pembinaan bagi para guru madrasah.

Pada kesempatan ini, ketua K3MI 06, Ibu Elisah, dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir. Beliau juga menyampaikan bahwa jumlah guru yang tergabung dalam K3MI 06 mencapai 405 guru. Hal ini menunjukkan besarnya kekuatan dan potensi dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah melalui kebersamaan.

Dalam sesi pembinaan, Ketua Penma Kabupaten Ponorogo, Bapak Dr. Nasta’in, M.Pd.I, menyampaikan bahwa guru saat ini harus memiliki karakter IDOLA. Integritas menjadi hal utama dengan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada murid serta terus meningkatkan kualitas diri. Selain itu, dedikasi juga penting agar peserta didik mampu menjadi pribadi yang berkarakter, berprestasi, memiliki kemampuan literasi, serta menjaga kesehatan.

Lebih lanjut, guru juga harus bersikap objektif dalam menjalankan tugasnya. Loyalitas menjadi nilai penting lainnya, di mana setiap permasalahan hendaknya diselesaikan secara internal melalui jalur yang tepat, tidak langsung dipublikasikan di media sosial.
Dalam kesempatan yang sama, Bapak Ruslan Thohirin, S.Ag., M.Si selaku Ketua Pokjawas Kabupaten Ponorogo sekaligus Wakil Ketua Pokjawas Jawa Timur juga menyampaikan pesan kepada K3MI 06 agar implementasi KBC dapat berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan K3MI 06 menjadi tolok ukur bagi madrasah lain di Kabupaten Ponorogo. Beliau juga mengapresiasi prestasi K3MI 06 yang berhasil meraih juara umum dalam ajang Porseni tahun 2025.
Materi Halal Bihalal dalam kegiatan ini disampaikan oleh Bapak Kiai Nur Sholihin Al Hafidz. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa sangat beruntunglah orang yang ditakdirkan menjadi seorang guru atau pendidik, karena ilmu yang diamalkan dari guru kepada muridnya menjadi wasilah kesuksesan muridnya. Mengajar juga memberikan dua manfaat, yaitu sebagai bentuk sedekah ilmu. Imam Ghazali menyampaikan bahwa murid merupakan logam mulia yang akan dipoles oleh guru sebagaimana mestinya.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin dijelaskan bahwa murid akan beruntung jika memiliki guru yang sabar, tawadlu’, dan khusnul khuluq. Guru yang sabar adalah guru yang tidak mencela muridnya, sedangkan murid harus menghormati guru karena dengan menghormati guru, ia juga akan menghormati ilmunya.
Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa dalam kehidupan terdapat berbagai tipe manusia, yaitu yang suka menolong dan meminta tolong, yang suka menolong tetapi sulit meminta tolong, yang tidak mau menolong dan tidak mau meminta tolong, serta yang selalu meminta tolong tetapi tidak mau membantu. Gambaran tersebut menjadi refleksi penting dalam kehidupan sosial, khususnya dalam dunia pendidikan, agar guru dapat menanamkan nilai kepedulian, keseimbangan dalam memberi dan menerima, serta membangun karakter sosial yang baik pada peserta didik.
Dari penjelasan tersebut, sikap tawadlu’ atau rendah hati menjadi salah satu kunci utama yang harus dimiliki, baik oleh guru maupun murid. Dengan sikap tawadlu’, seseorang akan lebih mudah menghargai orang lain, terbuka dalam menerima masukan, serta tidak merasa lebih tinggi dari yang lain. Hal ini sangat penting dalam membangun hubungan yang harmonis di lingkungan pendidikan.

Di samping itu, guru juga diingatkan untuk tidak memiliki sifat iri dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Sikap iri dapat menghambat keikhlasan dan profesionalisme, sehingga penting bagi guru untuk senantiasa menjaga hati dan niat dalam mendidik.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh guru, khususnya Bapak dan Ibu Guru MI Ma’arif Syuhada’, dapat mengambil hikmah dari setiap materi yang disampaikan, serta terus meningkatkan kualitas diri baik secara profesional maupun spiritual dalam mendidik generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter.