Studium Generale: Menyatukan Agama, Sains, dan Dekolonisasi Ilmu Sosial di Hari Santri

Ponorogo, 7 Oktober 2025 — Dalam semangat memperingati Hari Santri Nasional, Aula Watu Dakon Kampus UIN Ponorogo menjadi saksi terselenggaranya kegiatan Studium Generale yang menggugah pemikiran. Acara yang dihadiri Kepala Madrasah Inayatul Munifin, M.Pd dan Waka Kurikulum Choirul Hidayati, S.Ag M.Pd merupakan hasil kolaborasi antara Program Pascasarjana UIN Ponorogo dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur. Dengan mengusung tema “Agama, Sains, dan Dekolonisasi Ilmu Sosial di Asia”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan dialog akademik tentang pentingnya mengembalikan ilmu pengetahuan pada akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor UIN Ponorogo menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri yang diinisiasi oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ponorogo. Ia menyampaikan bahwa santri tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga agen perubahan sosial yang mampu berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. “Kita ingin agar para santri dan akademisi mampu berdialog dengan sains dan tidak alergi terhadap perkembangan zaman,” ujarnya penuh semangat.

Tema yang diangkat menjadi sangat relevan dengan konteks kekinian. Di tengah arus globalisasi dan dominasi pengetahuan Barat, dekolonisasi ilmu sosial hadir sebagai upaya untuk menegaskan kembali jati diri keilmuan yang berakar pada pengalaman, budaya, dan nilai-nilai lokal Asia, khususnya Indonesia. Pandangan ini selaras dengan visi transformasi sosial-keagamaan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana membangun peradaban yang lebih adil dan berkeadaban.

Melalui forum ini, para akademisi, peneliti, dan mahasiswa diajak untuk memikirkan kembali paradigma ilmu sosial yang selama ini cenderung bersifat hegemonik. Dekolonisasi bukan sekadar menolak teori-teori Barat, melainkan mengkritisi dan menyesuaikan pendekatan keilmuan agar lebih kontekstual dengan realitas masyarakat Asia. Dalam konteks Islam dan pesantren, gagasan ini membuka peluang besar bagi lahirnya sintesis baru antara nilai-nilai spiritual dan rasionalitas ilmiah.

Kegiatan Studium Generale ini juga menjadi momentum penting bagi UIN Ponorogo untuk memperkuat posisinya sebagai kampus yang progresif dan terbuka terhadap wacana-wacana pembaruan. Kehadiran ISNU Jawa Timur menambah bobot intelektual kegiatan ini, karena menghadirkan perspektif akademisi NU yang kaya akan pengalaman dalam mengintegrasikan agama dan ilmu pengetahuan. Diskusi berjalan dinamis, menampilkan berbagai pandangan kritis dan reflektif yang menggugah kesadaran peserta.

Lebih jauh, acara ini mengingatkan bahwa Hari Santri bukan sekadar perayaan simbolik, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali peran santri dalam percaturan ilmu dan peradaban global. Santri masa kini diharapkan tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga mampu menguasai sains, teknologi, dan ilmu sosial secara mendalam, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Melalui tema yang mendalam dan pelaksanaan yang inspiratif, Studium Generale ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara agama dan sains bukan hal yang mustahil. Justru dari kolaborasi keduanya, akan lahir paradigma baru ilmu pengetahuan yang lebih manusiawi, berakar pada budaya, dan berpihak pada kemaslahatan. Dari Ponorogo, semangat dekolonisasi ilmu dan kebangkitan santri untuk dunia yang lebih berkeadaban kembali digelorakan.

Berita Terkait