Ponorogo – LP Ma’arif PCNU Ponorogo menggelar pelatihan “Ma’arif Mart” pada Sabtu (4/10/2025) di Gedung Graha PCNU Ponorogo. Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian diseminasi pelatihan yang diikuti guru-guru Ma’arif se-Kabupaten Ponorogo sejak 10 September 2025. Dari MI Ma’arif Syuhada hadir Moh. Amirul Mukminin, S.Pd. sebagai peserta.

Dalam sesi sambutan bertajuk “Memenangkan Ekonomi”, Dr. Ahmadi menegaskan pentingnya peran madrasah dalam membangun kemandirian ekonomi umat. Fokus pemberdayaan tidak hanya diarahkan pada kaum wanita dan remaja, tetapi juga meluas kepada seluruh unsur madrasah.
Menurut Dr. Ahmadi, paradigma pendidikan saat ini perlu bergeser. Istilah “siswa” sudah saatnya diganti menjadi “pembelajar” – yang mencakup siswa, guru, gedung, struktur madrasah, hingga seluruh elemen yang ada di lingkungan madrasah. Dengan paradigma ini, setiap unsur madrasah menjadi bagian dari proses belajar dan penggerak perubahan.

Ia menambahkan, cara terbaik menata masa depan adalah dengan melakukannya sekarang. Melalui langkah-langkah konkret pemberdayaan ekonomi, madrasah dapat menjadi pusat tumbuhnya kesadaran, inovasi, dan kemandirian ekonomi sejak dini, sekaligus membentuk generasi pembelajar yang unggul, produktif, dan berdaya saing.
Pelatihan ini mengusung tema “Pemberdayaan Ekonomi Ummat melalui Ma’arif Mart”. Dalam rundown acara, para peserta mengikuti berbagai sesi mulai dari registrasi, pembukaan, pre-test, hingga pendalaman materi seperti:
- Konsep Dasar Pemberdayaan Ekonomi Ummat oleh Estu Unggul Drajat, M.Ec.Dev.

Materi ini menekankan pentingnya memahami ekonomi umat berbasis pesantren dan jamaah, mengutamakan ukhuwah, kebersamaan, koperasi, UKM, BMT, dan kesesuaian dengan maqashid syariah. Dalam paparan materinya, Estu menjelaskan bahwa setiap orang harus mampu memenuhi kebutuhannya meski dalam kondisi keterbatasan. Ia menekankan perbedaan mendasar antara ekonomi konvensional dan ekonomi Islam. Pada ekonomi konvensional, manusia hidup untuk memenuhi kebutuhan duniawi semata. Sementara itu, dalam ekonomi Islam, pemenuhan kebutuhan dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.
Lebih lanjut, Estu menyoroti peluang besar ekonomi Islam sebagai sarana penguatan kemandirian ekonomi Nahdlatul Ulama. Melalui pemberdayaan mandiri seperti Ma’arif Mart, diharapkan tercipta kemaslahatan umat yang tidak hanya menyejahterakan secara ekonomi, tetapi juga menjaga nilai spiritual dan sosial dalam praktiknya.
- Strategi Pendirian Ma’arif Mart oleh Siti Nur Cholimah, S.Pd.
Pemateri memaparkan tujuan Ma’arif Mart: menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan harga bersaing, membuka lapangan kerja baru, mendukung perekonomian lokal, dan membentuk tim pengelola yang solid. Ia menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya insan dan strategi pemasaran yang tepat dalam pengembangan usaha.
Menurutnya, pendirian Ma’arif Mart dilatarbelakangi oleh perubahan pola belanja masyarakat yang semakin praktis, meningkatnya kebutuhan akses barang sehari-hari yang mudah dijangkau, serta peluang usaha ritel modern yang semakin besar.
Tujuan utama pendirian Ma’arif Mart adalah menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan harga bersaing dan pelayanan ramah, membuka lapangan kerja baru, serta mendukung perekonomian lokal. Untuk mewujudkannya, dibentuk tim pengelola khusus yang akan mengatur strategi pemasaran dan operasional toko.
- Strategi Pemasaran Ma’arif Mart oleh Shofia Muthiarrochman, S.Pd.
Strategi pemasaran dirancang agar Ma’arif Mart dikenal luas. Strategi pemasaran yang ditekankan adalah penetapan harga awal yang tidak terlalu tinggi agar menarik minat pembeli. Hal ini sejalan dengan jargon “Ma’arif Mart: Belanja Syar’i, Harga Pasti, Pasti Berkah, Barokah” menjadi identitas gerai. Diharapkan Ma’arif Mart mampu menjadi model ritel modern yang tidak hanya mengutamakan keuntungan, tetapi juga keberkahan dan kemaslahatan umat.
- Pembuatan Laporan Keuangan Ma’arif Mart oleh Ajeng Pipit Fitriani, M.S.Ak.
Materi akuntansi sederhana: identifikasi transaksi, pencatatan, pengelompokan, penyusunan laporan, hingga akuntabilitas. Peserta diajak mengelola keuangan berbasis prinsip syariah (jujur, amanah, transparan). Materi Pembukuan Keuangan yang disampaikan oleh Ajeng Pipit Fitriani ini membahas proses akuntansi yang meliputi identifikasi (M.S. AL), pencatatan dan penggolongan, peringkasan, hingga penyusunan laporan keuangan.
Ajeng Pipit Fitriani menjelaskan bahwa pembukuan yang baik memiliki tiga tujuan utama, yakni menyediakan informasi keuangan seperti uang kas dan persediaan barang, menjadi dasar pengambilan keputusan, serta menunjukkan pertanggungjawaban (akuntabilitas dan transparansi) kepada pihak terkait.
Ia juga menekankan penerapan prinsip syariah dalam pengelolaan keuangan, yaitu kejujuran, laporan keuangan yang jelas, dan prinsip amanah. “Uang Mart harus digunakan untuk Mart, bukan untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.
Dalam materi ini turut disampaikan konsep dasar akuntansi yang menjadi pijakan pembukuan, meliputi aset/harta, utang, modal, pendapatan, dan biaya. Dengan pemahaman ini, pengelola Ma’arif Mart diharapkan mampu mengelola keuangan secara profesional, transparan, dan sesuai prinsip syariah sehingga keberadaan Mart dapat memberi manfaat lebih luas bagi umat.
- Simulasi dan Studi Kasus Ma’arif Mart oleh Herwin Upayani, S.Pd.
Peserta diajak berlatih langsung mengelola Ma’arif Mart, mempraktikkan pembentukan mental produktif, mengendalikan impulsive buying, serta menumbuhkan jiwa wirausaha.

Jadi, dalam desiminasi Ma’arif Mart ini isi materi yang ditekankan meliputi pengelolaan keuangan berbasis prinsip syariah—mulai dari pencatatan, pengelompokan, penyusunan laporan hingga akuntabilitas. Peserta juga diajak memahami konsep aset, utang, modal, pendapatan, dan biaya secara sederhana agar dapat diaplikasikan dalam pengelolaan unit usaha pendidikan.
Dalam agenda monitoring Prof. Mashdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D., Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Timur, hadir memberikan arahan, Prof. menyampaikan pesan penting mengenai transformasi mentalitas warga madrasah dan Nahdlatul Ulama. Ia menekankan pentingnya keberanian keluar dari zona underestimate, membangun mental produktif, menunda kesenangan, dan berani melangkah di era ekonomi digital. “Kita harus memanfaatkan peluang online agar guru NU tidak hanya konsumtif tetapi juga produktif,” pesannya. Menurutnya, pendidikan Ma’arif harus menggabungkan tarbiyah dan intelektual, serta mengajak semua pihak berani melangkah, belajar dengan cinta, dan menunda kesenangan demi membangun mentalitas mandiri.
Prof. Masdar Hilmi menekankan bahwa kemandirian tidak hanya diukur dari ekonomi, tetapi berawal dari sikap mentalitas yang sehat, termasuk keberanian mengikuti perkembangan ekonomi digital. Melalui berbagai pelatihan, warga Ma’arif diharapkan mampu mengubah mental konsumtif menjadi mental produktif, memanfaatkan peluang, serta membiasakan riyadhoh (latihan disiplin diri) untuk mendukung kemandirian ekonomi. “Orang NU juga bisa kaya,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua PC NU Ponorogo juga mengajak seluruh peserta untuk mencintai produk sendiri sebagai langkah nyata menumbuhkan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan menekan kebiasaan impulsive buying. Dengan mentalitas baru yang dibangun ini, madrasah dan warganya diharapkan mampu melahirkan generasi yang tangguh, mandiri, serta berdaya saing di era ekonomi digital.
Selain motivasi, Prof. Mashdar juga menyinggung pentingnya Riyadhoh atau pembiasaan hidup sederhana sebagai bekal kemandirian ekonomi, termasuk mengendalikan jiwa impulsif buying. Dengan mentalitas ini, guru-guru NU diharapkan mampu mengelola usaha secara profesional sekaligus mendidik siswa menjadi generasi yang mandiri. Beliau menekankan pentingnya keberanian guru untuk keluar dari zona nyaman. “Label Ma’arif jangan sampai membuat minder. Justru dari Ma’arif kita buktikan kemampuan bersaing dengan lembaga lain,” ungkapnya. Prof. Mashdar juga mengajak guru NU memanfaatkan peluang ekonomi digital tanpa mengabaikan tugas utama sebagai pendidik.

Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idam Mustofa, M.Pd., mendukung penuh gagasan tersebut. Ia menilai Ma’arif Mart dapat menjadi simbol kemandirian ekonomi lembaga pendidikan NU dan membuka ruang kolaborasi dengan unit usaha NU lainnya. Ia mendorong sinergi antarunit usaha NU. “Ma’arif Mart harus menjadi simbol kemandirian ekonomi lembaga pendidikan NU,” tuturnya. Ia menilai kerja sama lintas unit usaha NU akan memperkuat sistem dan semangat berjam’iyah.
Menutup kegiatan, Ketua LP Ma’arif Ponorogo, Dr. Basuki, M.Ag., menyampaikan komitmennya untuk menindaklanjuti hasil pelatihan. Ia menegaskan tindak lanjut secara konkret. “Kami siap melangkah nyata menghadirkan Ma’arif Mart sebagai bagian penguatan ekosistem pendidikan dan ekonomi di Ma’arif,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis mengelola Ma’arif Mart, tetapi juga dibekali nilai-nilai syariah, mental produktif, dan semangat wirausaha yang selaras dengan misi pendidikan Nahdlatul Ulama.