Sabtu, 12 September 2026, menjadi bagian dari pengalaman kompetitif bagi murid MI Ma’arif Syuhada’ Ngunut Babadan Ponorogo (MIMADA) melalui keikutsertaan dalam Dewantara Cup 3 MI se-Kabupaten Ponorogo Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di MIN 7 Ponorogo tersebut diikuti oleh 410 peserta didik dari berbagai MI se-Kabupaten Ponorogo.
Kompetisi ini mempertemukan murid dari berbagai madrasah dalam sejumlah cabang perlombaan. Selain menjadi ruang untuk menguji kemampuan, kegiatan semacam ini memberikan pengalaman langsung kepada murid dalam menerapkan hasil latihan, mengikuti ketentuan pertandingan, mengelola konsentrasi, serta menghadapi peserta dengan kemampuan yang beragam.
Pada ajang tersebut, MIMADA memperoleh tiga capaian. Muhammad Rafardan Andrian Lesmana meraih Juara 2 Tolak Peluru Putra, Fatan Nur Hamizan meraih Juara 2 Catur Putra, dan Mutiara Salsabila Azzahra memperoleh Juara 2 Lompat Jauh Putri.
Ketiga cabang tersebut memiliki karakter keterampilan yang berbeda sehingga memberikan gambaran mengenai keberagaman potensi yang dapat dikembangkan melalui kegiatan pendidikan.
Muhammad Rafardan Andrian Lesmana pada Cabang Tolak Peluru
Muhammad Rafardan Andrian Lesmana, murid kelahiran 2016, mengikuti cabang Tolak Peluru Putra dan memperoleh Juara 2.

Tolak peluru merupakan nomor atletik yang memerlukan perpaduan antara kekuatan, koordinasi, keseimbangan, serta penguasaan teknik. Hasil lemparan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan tenaga, tetapi juga oleh cara tenaga tersebut disalurkan melalui rangkaian gerakan.
Posisi awal, perpindahan tubuh, dorongan, arah gerakan, dan waktu pelepasan menjadi bagian yang saling berkaitan. Penguasaan setiap tahapan membantu menghasilkan gerakan yang lebih terkontrol.
Bagi murid, latihan pada cabang ini memberikan pengalaman mengenai hubungan antara kemampuan fisik dan teknik. Kekuatan perlu diikuti dengan koordinasi gerak agar dapat digunakan secara efektif.
Keikutsertaan Rafardan dalam kompetisi menjadi bagian dari proses untuk menerapkan kemampuan yang telah dipelajari dalam situasi pertandingan yang sebenarnya.
Fatan Nur Hamizan pada Cabang Catur
Fatan Nur Hamizan, murid kelahiran 2015, mengikuti Catur Putra dan memperoleh Juara 2.

Catur memiliki karakter yang berbeda dari cabang olahraga atletik. Aktivitas utamanya berlangsung melalui proses berpikir yang membutuhkan konsentrasi, ketelitian, kemampuan membaca posisi, serta pertimbangan terhadap berbagai kemungkinan.
Setiap langkah pada papan catur dapat memengaruhi perkembangan permainan. Pemain perlu memperhitungkan bukan hanya langkah yang sedang dilakukan, tetapi juga kemungkinan respons lawan dan konsekuensi yang dapat muncul setelahnya.
Kondisi tersebut menjadikan catur sebagai aktivitas yang melatih pengambilan keputusan. Perubahan posisi di papan menuntut pemain untuk dapat menyesuaikan strategi ketika keadaan tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Pengalaman mengikuti pertandingan juga memberikan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan kemampuan mengelola fokus dalam suasana kompetitif. Hasil permainan dapat menjadi bahan untuk mengevaluasi strategi sekaligus memahami bagian yang masih perlu dikembangkan.
Mutiara Salsabila Azzahra pada Cabang Lompat Jauh
Pada cabang Lompat Jauh Putri, Mutiara Salsabila Azzahra, murid kelahiran 2016, memperoleh Juara 2.

Lompat jauh menggabungkan beberapa komponen gerak dalam satu rangkaian. Kecepatan awalan perlu dipadukan dengan kekuatan ketika melakukan tolakan. Setelah itu, koordinasi dan keseimbangan tubuh berperan dalam mempertahankan kontrol gerakan hingga pendaratan.
Ketepatan titik tolakan menjadi salah satu bagian penting karena berhubungan dengan efektivitas lompatan. Kemampuan tersebut membutuhkan pembiasaan melalui latihan yang dilakukan secara berulang dan terarah.
Murid juga dapat belajar mengenali respons tubuh terhadap setiap gerakan. Evaluasi terhadap hasil lompatan membantu menentukan aspek yang perlu diperbaiki, baik pada awalan, tolakan, posisi tubuh di udara, maupun pendaratan.
Pengalaman Mutiara dalam Dewantara Cup 3 menjadi bagian dari proses pengembangan keterampilan atletik yang dapat terus ditingkatkan melalui latihan berikutnya.
Tiga Cabang, Tiga Karakter Kemampuan
Capaian yang diperoleh MIMADA berasal dari tiga cabang dengan tuntutan kemampuan yang berbeda.
Tolak peluru berkaitan erat dengan kekuatan dan teknik gerak. Catur membutuhkan penalaran, konsentrasi, serta strategi. Lompat jauh memadukan kecepatan, kekuatan, koordinasi, keseimbangan, dan ketepatan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa potensi murid memiliki bentuk yang beragam. Kemampuan tidak selalu terlihat melalui satu jenis aktivitas saja. Kegiatan yang berbeda dapat membuka kesempatan bagi murid untuk menemukan bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Perspektif ini penting dalam pengembangan pendidikan karena setiap murid memiliki karakter belajar dan kecenderungan kemampuan yang tidak selalu sama.
Kompetisi sebagai Pengalaman Belajar
Kompetisi memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan latihan di lingkungan madrasah. Murid berhadapan dengan peserta dari berbagai madrasah, mengikuti aturan pertandingan, dan menghadapi kondisi yang tidak seluruhnya dapat diprediksi.
Situasi tersebut mengharuskan murid menerapkan kemampuan dalam kondisi nyata. Pada cabang olahraga, teknik yang telah dilatih perlu dilakukan dalam batas waktu dan ketentuan pertandingan. Pada catur, strategi harus diterapkan sambil merespons keputusan lawan.
Pengalaman tersebut dapat membantu murid memahami pentingnya persiapan, konsistensi, konsentrasi, dan kemampuan menyesuaikan diri.
Hasil pertandingan juga dapat dipandang sebagai informasi untuk melihat perkembangan kemampuan. Peringkat yang diperoleh menunjukkan hasil pada suatu kompetisi, sedangkan proses menuju hasil tersebut memberikan pengalaman yang dapat digunakan untuk pembelajaran selanjutnya.
Latihan dan Evaluasi sebagai Bagian dari Pengembangan
Kemampuan yang ditampilkan dalam pertandingan merupakan bagian dari proses yang berlangsung sebelum kompetisi. Latihan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengulang keterampilan, menemukan kesalahan, dan melakukan perbaikan.
Pada cabang atletik, pengulangan membantu membangun penguasaan gerak. Pada catur, latihan menghadapi berbagai pola permainan memperluas pengalaman dalam mengambil keputusan.
Evaluasi kemudian menjadi penghubung antara pengalaman dan perkembangan kemampuan. Kesalahan yang ditemukan tidak berhenti sebagai hasil pertandingan, tetapi dapat digunakan untuk menentukan aspek yang perlu diperbaiki.
Proses seperti ini membuat pengembangan bakat berlangsung secara bertahap. Hasil kompetisi menjadi salah satu sumber informasi untuk merancang latihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan murid.
Memberikan Ruang bagi Beragam Potensi
Pengembangan potensi murid membutuhkan kesempatan untuk mencoba berbagai aktivitas. Kemampuan yang tidak selalu tampak dalam pembelajaran kelas dapat muncul ketika murid memperoleh ruang untuk berolahraga, bermain strategi, berkarya, atau mengikuti kegiatan pengembangan diri.
Kegiatan kompetitif dapat menjadi salah satu cara untuk mengenali kemampuan tersebut. Murid memperoleh kesempatan untuk menguji keterampilan sekaligus mendapatkan pengalaman baru melalui interaksi dengan peserta dari madrasah lain.
Bagi madrasah, pengalaman tersebut juga dapat memberikan gambaran mengenai bidang yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut.
Belajar dari Peserta dan Lingkungan Kompetisi
Dewantara Cup 3 mempertemukan peserta dari berbagai madrasah dengan pengalaman dan kemampuan yang beragam. Kondisi ini menciptakan lingkungan belajar yang lebih luas bagi murid.
Pertandingan memungkinkan murid melihat variasi teknik, strategi, maupun cara peserta lain menghadapi kompetisi. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan refleksi terhadap kemampuan yang dimiliki.
Interaksi dalam kompetisi juga berkaitan dengan pembelajaran mengenai aturan dan sikap sportif. Murid belajar bahwa pertandingan memiliki ketentuan yang perlu dipatuhi dan hasil perlu diterima sebagai bagian dari proses.
Prestasi sebagai Bahan Pengembangan Selanjutnya
Tiga capaian yang diperoleh MIMADA dalam Dewantara Cup 3 dapat menjadi bagian dari evaluasi pembinaan. Perhatian dapat diarahkan pada proses persiapan, kualitas latihan, penguasaan teknik, strategi, serta kesiapan murid menghadapi pertandingan.
Hasil tersebut juga dapat digunakan untuk menentukan langkah pengembangan berikutnya. Kemampuan yang sudah terbentuk dapat dipertahankan, sedangkan aspek yang masih membutuhkan penguatan dapat memperoleh porsi latihan yang lebih terarah.
Dengan cara tersebut, prestasi tidak berhenti pada pencatatan hasil perlombaan. Capaian dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang terus berkembang dari satu pengalaman menuju pengalaman berikutnya.
MIMADA dan Pengembangan Potensi Murid
Keikutsertaan dalam Dewantara Cup 3 menunjukkan bahwa pengembangan murid dapat berlangsung melalui berbagai jalur. Muhammad Rafardan Andrian Lesmana melalui tolak peluru, Fatan Nur Hamizan melalui catur, dan Mutiara Salsabila Azzahra melalui lompat jauh mengikuti cabang yang memiliki tuntutan kemampuan berbeda.
Ketiga capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan MIMADA dalam memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan potensi. Prosesnya tidak hanya berkaitan dengan hasil akhir, tetapi juga mencakup latihan, pengalaman bertanding, evaluasi, dan kesempatan untuk berkembang.
Dewantara Cup 3 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan proses pembinaan di madrasah dengan pengalaman kompetisi di tingkat kabupaten. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi murid, guru, maupun madrasah dalam menentukan pengembangan kemampuan pada tahap berikutnya.
Melalui semangat “Kreatif, Edukatif, Religius, Efektif, Nahdliyyin”, MIMADA terus memberikan ruang bagi murid untuk belajar, berproses, dan mengembangkan potensi melalui berbagai pengalaman pendidikan.
Media Sosial MIMADA
Informasi kegiatan dan dokumentasi MI Ma’arif Syuhada’ Ngunut Babadan Ponorogo dapat diikuti melalui:
📸 Instagram: @mimaarifsyuhadangunut
▶️ YouTube: mimaarifsyuhadangunut
🎵 TikTok: @mimaarifsyuhadangunut
📘 Facebook: mimaarifsyuhadangunut