Sabtu, 29 November 2025, siswa kelas VI MI Ma’arif Syuhada’ menggelar projek teater SBdP yang dipandu oleh Ibu Siti Rukanah atau Bu Kanah. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran seni budaya yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan diri, mengasah kreativitas, dan melatih keberanian tampil di depan umum. Dalam pelaksanaannya, kelas dibagi menjadi dua kelompok dengan masing-masing cerita berbeda dan tokoh yang lengkap.
Kelompok Pertama: Teater “Ande-ande Lumut”

Pementasan ini menghadirkan rangkaian tokoh lengkap dari cerita rakyat Jawa, yaitu:
-
Klenting Kuning
-
Klenting Abang
-
Klenting Ijo
-
Klenting Biru
-
Mboknya para Klenting
-
Mbok Rondo Dadapan
- Suara Ghoib
-
Pangeran Ande-ande Lumut
-
Dua Pengawal Pangeran
- Yuyu Kangkang
-
Dua Narator
Suasana pementasan menjadi hidup berkat dialog yang jelas, ekspresi yang kuat, dan penampilan kostum yang mendukung karakter masing-masing.

Suasana pementasan menjadi hidup berkat dialog yang jelas, ekspresi yang kuat, dan penampilan kostum yang mendukung karakter masing-masing.

Kelompok Kedua: Teater “Semarak HUT RI”

Dengan tema semarak kemerdekaan, kelompok ini menampilkan peran-peran sebagai berikut:
-
Ibu dari anak-anak sekaligus remaja putri panitia lomba
-
Pak RT (tokoh independen)
-
Anak-anak putri peserta lomba
-
Anak-anak putra peserta lomba
-
Para pemuda sebagai panitia lomba
-
Seorang narator

Pementasan ini menggambarkan nuansa khas peringatan HUT RI yang meriah, penuh kebersamaan, dan sarat nilai gotong-royong.

Aspek Penilaian
Ibu Kanah menilai setiap penampilan melalui tiga aspek utama, dengan uraian penilaian yang mendalam:
1. Aspek Vokal
Aspek ini mencakup intonasi, artikulasi, serta kesesuaian isi pembicaraan dengan tema yang dibawakan.
Siswa dinilai dari sejauh mana mereka mampu mengucapkan dialog dengan jelas, lantang, dan mudah dipahami oleh penonton. Penguasaan intonasi juga menjadi perhatian, terutama pada dialog yang membutuhkan penekanan emosi tertentu, seperti saat marah, sedih, bingung, atau antusias.
Keselarasan antara dialog yang diucapkan dengan suasana adegan juga menjadi poin penting, sehingga penonton dapat mengikuti alur cerita secara natural dan menyenangkan.
2. Aspek Wajah
Penilaian dalam aspek ini mencakup tata rias, ekspresi, dan kesesuaian karakter yang diperankan siswa.
Setiap siswa diharapkan mampu menghadirkan ekspresi wajah yang sesuai dengan tokoh yang dibawakan, baik tokoh protagonis, antagonis, komedi, maupun figuran.
Tata rias sederhana yang digunakan oleh para pemain menjadi penunjang identitas karakter, sementara ekspresi wajah yang kuat membantu membangun suasana cerita. Dengan begitu, pementasan menjadi lebih hidup dan emosional.
3. Aspek Penampilan
Aspek penampilan meliputi kostum, kepantasan, dan kesesuaian busana dengan karakter yang diperankan.
Kreativitas siswa terlihat dari bagaimana mereka memanfaatkan pakaian dan properti sederhana untuk memperkuat visual tokoh dalam pementasan, baik dalam cerita legenda maupun suasana lomba 17 Agustus. Keselarasan antara kostum dan peran menjadi salah satu indikator keberhasilan siswa dalam memahami karakter masing-masing.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Siswa tampil percaya diri memainkan peran masing-masing, sementara teman-teman memberikan dukungan hangat dari bangku penonton. Bu Kanah menyampaikan apresiasi atas kerja keras kedua kelompok yang telah memberikan penampilan terbaik mereka.
Melalui proyek teater ini, siswa tidak hanya belajar seni peran, melainkan juga kerjasama tim, komunikasi, keberanian tampil di depan umum, kreativitas, serta penghargaan terhadap budaya dan nilai-nilai nasionalisme. Kegiatan semacam ini diharapkan terus menjadi bagian dari pembelajaran SBdP di MI Ma’arif Syuhada’, agar siswa berkembang secara kreatif, emosional, sosial, dan berkarakter positif.